Selasa, 06 Agustus 2019
JOGJA TEMPOE DOELOE
Jogja merupakan kota yang saat ini punya banyak sekali tempat wisata dan kulinernya. Makanya jangan heran kalo kalian tiba-tiba kepikiran pengen menetap disana. Karena dengan segala pesonanya yang menarik membuat kamu ingin cepat-cepat balik ke kota ini.
Tapii ... by the way, kamu penasaran gak sih gimana kondisi dan suasana kota Jogja di masa lampau? Gimana dan apa aja sih perbedaannya jaman dulu sama jaman sekarang?
1. Malioboro di era 1900-1940 nggak seramai sekarang. Tampak lengang, tenang, dan penuh kenangan.
2. Dari sudut yang sama, perbandingan Kilometer zaman dulu dan sekarang. Lengkap dengan gedung kantor pos yang tetap ada dari dulu.
3. Selain kendaraan, bangunan di sekitar Perempatan Tugu sudah berubah ya guys! Tapi Tugunya tetap sama kok
4. Stasiun Tugu nggak banyak berubah loh. Cuma konsisten menciptakan kenangan aja :)
5. Di antara pintu gerbang istana, Plengkung Gading adalah satu yang masih dipertahankan bentuk aslinya.
6. Beginilah kondisi keraton tempo dulu dan sekarang. Masih sama kan?
7. Masjid Gedhe Kauman juga masih nampak terkesan sakral dan hangat.
8. Perbedaan alun-alun kidul tempo dulu dan masa kini. Konon katanya kalau yang bisa melewati jalan diantara beringin kembar, bisa dikabulkan keinginannya. Ritual ini disebut Masangin.
9. Perbedaan Jalan Senopati sekitar 130 tahun lalu dengan masa kini.
10. Balairung UGM yang megah, ternyata dulunya begini. Dilatar belakangi Gunung Merapi yang menjulang tinggi.
11. Benteng Vredeburg
Sebuah benteng yang terletak di depan Gedung Agung dan Kraton Kesultanan Yogyakarta. Sekarang benteng ini menjadi sebuah museum. Di sejumlah bangunan di dalam benteng ini ada diorama mengenai sejarah Indonesia.
12. Gedung Agung Yogyakarta
Istana Yogyakarta yang dikenal dengan nama Gedung Agung terletak di pusat keramaian kota, tepatnya di ujung selatan, Jalan Ahmad Yani dahulu dikenal dengan Jalan Margomulyo
Tapii ... by the way, kamu penasaran gak sih gimana kondisi dan suasana kota Jogja di masa lampau? Gimana dan apa aja sih perbedaannya jaman dulu sama jaman sekarang?
1. Malioboro di era 1900-1940 nggak seramai sekarang. Tampak lengang, tenang, dan penuh kenangan.
![]() |
| sekarang Malioboro ramenyaaa |
2. Dari sudut yang sama, perbandingan Kilometer zaman dulu dan sekarang. Lengkap dengan gedung kantor pos yang tetap ada dari dulu.
3. Selain kendaraan, bangunan di sekitar Perempatan Tugu sudah berubah ya guys! Tapi Tugunya tetap sama kok
4. Stasiun Tugu nggak banyak berubah loh. Cuma konsisten menciptakan kenangan aja :)
5. Di antara pintu gerbang istana, Plengkung Gading adalah satu yang masih dipertahankan bentuk aslinya.
6. Beginilah kondisi keraton tempo dulu dan sekarang. Masih sama kan?
7. Masjid Gedhe Kauman juga masih nampak terkesan sakral dan hangat.
8. Perbedaan alun-alun kidul tempo dulu dan masa kini. Konon katanya kalau yang bisa melewati jalan diantara beringin kembar, bisa dikabulkan keinginannya. Ritual ini disebut Masangin.
9. Perbedaan Jalan Senopati sekitar 130 tahun lalu dengan masa kini.
![]() |
| Kini bangunan yang ada di bagian kanan berubah menjadi Taman Pintar |
10. Balairung UGM yang megah, ternyata dulunya begini. Dilatar belakangi Gunung Merapi yang menjulang tinggi.
Sebuah benteng yang terletak di depan Gedung Agung dan Kraton Kesultanan Yogyakarta. Sekarang benteng ini menjadi sebuah museum. Di sejumlah bangunan di dalam benteng ini ada diorama mengenai sejarah Indonesia.
12. Gedung Agung Yogyakarta
Istana Yogyakarta yang dikenal dengan nama Gedung Agung terletak di pusat keramaian kota, tepatnya di ujung selatan, Jalan Ahmad Yani dahulu dikenal dengan Jalan Margomulyo
KESENIAN JOGJA
Sendratari Ramayana Prambanan
Jika berkunjung ke Candi Prambanan aja sih
udah biasa, tapi kalo sambil nonton epos Mahabrata langsung di depan Candi
Prambanan baru luar biasa. Datang ke situs bersejarah pada hari Senin, Kamis,
atau Sabtu, pertunjukan Sendratari Ramayana rutin digelar memukau setiap pasang
mata.
Borobudur
Nite Festival
Nyalakan
mimpi-mimpi kalian dengan melepas lampion di langit Borobudur yang biasanya
digelar pada malam tahun baru di Borobudur Nite Festival. Borobudur Nite
Festival akan disuguhi kesenian tradisional dan dimeriahkan oleh
musikus-musikus Indonesia.
Pagelaran Wayang Kulit
Masyarakat Indonesia seharusnya bangga dengan pagelaran wayang kulit. Orang
asing saja menyukainya. Kesenian tersebut bahkan telah mendapat pengakuan dari
UNESCO. Kalian bisa menyaksikan pagelaran wayang kulit di Museum Sonobudoyo.
Tidak seperti pertunjukan wayang pada umumnya yang semalam suntuk, Museum
Sonobudoyo hanya memberikan durasi selama dua jam.
Pagelaran
KetoprakRRI Yogyakarta mengadakan pagelaran ketoprak secara rutin setiap bulan. Bahkan, pertunjukan itu juga disiarkan melalui saluran radio. Pagelaran Ketoprak Mataram menceritakan kehidupan masyarakat di zaman Kerajaan Mataram. Isinya serius, tapi dikemas dalam dialog jenaka yang memicu gemuruh tawa penonton.
Jazz Mben Senen
Pertunjukan yang satu ini memang bukan kesenian khas Nusantara, tetapi sayang untuk dilewatkan. Komunitas Musik Jazz Jogja senantiasa menghibur para pendengarnya setiap hari Senin di Bentara Budaya Yogyakarta, pukul 20.00 WIB sampai selesai.
GUBERNUR DIY
| No. | Gubernur | Mulai jabatan | Akhir jabatan | Masa | Keterangan | Wakil | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| ISKS Hamengku Buwono IX | KGPAA Paku Alam VIII | ||||||
| KGPAA Paku Alam VIII | [ket. 3] | ||||||
| ISSS Hamengku Buwono X | |||||||
(2003–15) | |||||||
(2016–) | |||||||
ISKS Hamengku Buwono IX = Gusti Raden Mas Dorodjatun atau Sri Sultan Hamengku Buwono IX, lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat, 12 April 1912 - meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat.
KGPAA Paku Alam VIII = BRMH Sularso Kunto Suratno diangkat sebagai KPH Prabu Suryodilogo pada 4 September 1936
ISSS Hamengku Buwono X = Bendara Raden Mas Herjuno Darpito adalah raja Kasultanan Yogyakarta sejak tahun 1989 dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 1998.
Kabupaten dan Kota yang ada di wilayah DIY juga merupakan metamorfosis dari kabupaten Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alam. Kabuaten tersebut merupakan administratif tanpa ada perwakilan rakyat. Kabupaten-kabupaten tersebut adalah :
1. Kab. Kota Kasultanan dengan KRT Hardjodiningrat sebagai bupatinya
2. Kab. Bantul dengan KRT Joyodiningrat sebagai bupatinya
3. Kab. Gunungkidul dengan KRT Suryodiningrat sebagai bupatinya
4. Kab. Kulonprogo yang beribu kota di Sentolo dengan KRT Secodiningrat
5. Kab. Kota Pakualaman dengan KRT Brotodiningrat sebagai bupatinya
6. Kab. Adikarto yang beribu kota di Wates dengan KRT Suryaningprang sebagai bupatinya.
ASAL USUL KOTA YOGYAKARTA
HALO KAWAN !!
Kali ini kita akan bahas mengenai salah satu kota di Indonesia yang identik dengan makanan gudhegnya ini. Tapi kita bukan bahas gudegnya, melainkan sejarah dari kota Yogyakarta :)
Kota Yogyakarta berdiri ketika ditandatanganinya sebuah Perjanjian Gianti tanggal 13 Februari 1755 oleh Kompeni Belanda bernama Gubernur Jenderal Jacob Mossel. Perjanjian Gianti berisi pernyataan bahwa negara Mataram dibagi menjadi 2, setengah menjadi hak Kerajaan Surakarta dan setengahnya lagi menjadi hak Kerajaan Yogyakarta.
Pangeran Mangkubumi diakui menjadi raja setengah daerah pedalaman Kerajaan Jawa dengan gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alaga Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Daerah yang menjadi kekuasaannya meliputi Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede, dan ditambah Madiun, Magetan, Cirebon, separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwo, Wonosari, dan Grobogan.
Setelah adanya pembagian daerah, Sultan Hamengku Buwono I segera mengeluarkan ketetapan yang menyatakan bahwa daerah Mataram diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta, sekarang), pada tanggal 13 Maret 1755 di hutan beringin. Kawasan ini terletak di antara sungai Winogo dan sungai Code, di mana lokasi ini tampak strategis.
Tempat yang dipilih menjadi ibukota adalah sebuah desa kecil bernama Pacethokan. Di desa ini ada suatu pesanggrahan yang diberi nama Garjitowati oleh Susuhunan Pakubuwono II dan nama ini diubah menjadi Ayodya. Setelah penetapan diumumkan, Sultan Hamengku Buwono memerintahkan rakyat untuk membabat hutan untuk mendirikan kraton.
7 Oktober 1756 Sultan Hamengku Buwono I memasuki istana baru sekaligus meresmikan istana ini. Dengan ini berdirilah kota Yogyakarta dengan nama utuh Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Tidak hanya kraton, dibangun juga alun-alun bagian utara dan selatan keraton, tembok benteng mengelilingi, bangunan taman safari, dan tugu yang didirikan di bagian utara keraton.
Kali ini kita akan bahas mengenai salah satu kota di Indonesia yang identik dengan makanan gudhegnya ini. Tapi kita bukan bahas gudegnya, melainkan sejarah dari kota Yogyakarta :)
Kota Yogyakarta berdiri ketika ditandatanganinya sebuah Perjanjian Gianti tanggal 13 Februari 1755 oleh Kompeni Belanda bernama Gubernur Jenderal Jacob Mossel. Perjanjian Gianti berisi pernyataan bahwa negara Mataram dibagi menjadi 2, setengah menjadi hak Kerajaan Surakarta dan setengahnya lagi menjadi hak Kerajaan Yogyakarta.
Pangeran Mangkubumi diakui menjadi raja setengah daerah pedalaman Kerajaan Jawa dengan gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alaga Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Daerah yang menjadi kekuasaannya meliputi Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede, dan ditambah Madiun, Magetan, Cirebon, separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwo, Wonosari, dan Grobogan.
Setelah adanya pembagian daerah, Sultan Hamengku Buwono I segera mengeluarkan ketetapan yang menyatakan bahwa daerah Mataram diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta, sekarang), pada tanggal 13 Maret 1755 di hutan beringin. Kawasan ini terletak di antara sungai Winogo dan sungai Code, di mana lokasi ini tampak strategis.
Tempat yang dipilih menjadi ibukota adalah sebuah desa kecil bernama Pacethokan. Di desa ini ada suatu pesanggrahan yang diberi nama Garjitowati oleh Susuhunan Pakubuwono II dan nama ini diubah menjadi Ayodya. Setelah penetapan diumumkan, Sultan Hamengku Buwono memerintahkan rakyat untuk membabat hutan untuk mendirikan kraton.
7 Oktober 1756 Sultan Hamengku Buwono I memasuki istana baru sekaligus meresmikan istana ini. Dengan ini berdirilah kota Yogyakarta dengan nama utuh Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Tidak hanya kraton, dibangun juga alun-alun bagian utara dan selatan keraton, tembok benteng mengelilingi, bangunan taman safari, dan tugu yang didirikan di bagian utara keraton.
KULINERE WONG JOGJA
AYAM GORENG MBAH CEMPLUNG
Di kaki Gunung Sempu, tepatnya di daerah Sembungan, Kasihan, Bantul, terdapat sebuah rumah makan Ayam Goreng Mbah Cemplung. Desain bangunannya terkesan klasik dengan lantai plesteran semen yang menambah kesan kuno.
BAKSO BETHESDA 74
Bakso Bethesda 74 juga sudah mendapatkan label dari MUI sehingga sudah terjamin kehalalannya.
House of Raminten
House of Raminten. Restoran yang buka sejak Desember 2008 ini sudah membuka dua cabang di Jogja, yakni di Jalan FM Noto No 7, Kotabaru dan Jalan Kaliurang KM 5,5.
Saat menyantap makanan, kamu akan ditemani oleh lantunan musik dang ending gending Jawa. Para pelayannya bahkan mengenakan seragam bertema Jawa, seperti kemben atau blangkon.
Gudeg Mbah Lindu
Berlibur ke Jogja tidak akan lengkap rasanya tanpa menyantap gudeg.Bagi kamu sedang berada di kawasan Sosrowijayan, Gudeg Mbah Lindu yang sudah berjualan sejak sebelum zaman penjajahan Jepang.
Sate Klatak Pak Bari
Sate Klatak Pak Bari sudah berdiri sejak sebelum tahun 1945. Sate klatak sendiri merupakan sate kambing muda usia 8 – 9 bulan yang empuk dan dibumbui dengan garam. Selain berkat cita rasa sate yang lezat, kuliner di Jogja yang satu ini semakin terkenal setelah muncul di film Ada Apa dengan Cinta 2 (2016).
Mangut Lele Mbah Marto
Langganan:
Postingan (Atom)



































